Suka Duka Jadi Mahasiswa IAT

Banyak orang kalau dengar jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) langsung kepikirannya: “Wah, tiap hari pasti ngaji terus, ya?” atau “Berat banget kayaknya, harus hafal tafsir semua ayat.” 🤯

Padahal kenyataannya… iya sih, ada bagian yang berat, tapi ada juga banyak hal seru yang bikin perjalanan jadi berwarna.

Sukanya:

  • Bisa lebih dekat sama Al-Qur’an, bukan cuma dibaca tapi juga dipelajari makna, sejarah, dan tafsirnya.

  • Belajar dari banyak ulama, mulai dari tafsir klasik sampai kontemporer, bikin kita sadar betapa kayanya khazanah Islam.

  • Ngerasa punya “bekal” spiritual yang lebih dalam, apalagi kalau pas materi nyambung sama realita hidup sehari-hari.

  • Ketemu teman-teman seperjuangan yang sama-sama jatuh bangun memahami ayat. Rasanya kayak punya circle yang ngerti banget susah-senengnya belajar tafsir.

Dukanya:

  • Nggak jarang merasa kewalahan sama bacaan yang tebel-tebel dan istilah Arab yang ribet.

  • Tugas makalah yang kayaknya nggak pernah ada habisnya (dan harus ngutip kitab kuning atau tafsir klasik).

  • Kadang orang luar suka salah paham: dikira sudah pasti hafal 30 juz atau bisa langsung jawab semua pertanyaan agama. Padahal, kita juga masih belajar.

  • Ada momen burnout, merasa minder, atau bahkan bingung dengan perdebatan tafsir yang nggak selalu mudah dicerna.

Tapi justru dari suka duka itu, jadi mahasiswa IAT ngajarin banyak hal: sabar, telaten, dan sadar kalau belajar Al-Qur’an itu proses panjang seumur hidup. Ada rasa capek, iya. Tapi ada juga rasa bahagia karena bisa menapaki jalan ilmu yang (semoga) penuh berkah. 

Posting Komentar

0 Komentar