Source: Pinterest.
Tahukah kamu, dalam Al-Qur’an ada satu kisah penguasa yang begitu sombong sampai mengaku dirinya sebagai tuhan? Kisah itu adalah kisah Fir‘aun. Ia merasa dirinyalah yang paling hebat, menolak kebenaran, menindas rakyat, dan yakin bahwa dirinya tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu, tapi pelajaran abadi bagi siapa pun yang hidup di dunia ini.
Allah SWT. berfirman:وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يٰۤـاَيُّهَا الۡمَلَاُ مَا عَلِمۡتُ لَـكُمۡ مِّنۡ اِلٰهٍ غَيۡرِىۡ ۚ فَاَوۡقِدۡ لِىۡ يٰهَامٰنُ عَلَى الطِّيۡنِ فَاجۡعَلْ لِّىۡ صَرۡحًا لَّعَلِّىۡۤ اَطَّلِعُ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوۡسٰى ۙ وَاِنِّىۡ لَاَظُنُّهٗ مِنَ الۡـكٰذِبِيۡنَ
Artinya: “Dia Fir'aun berkata, "Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta." (QS. Al-Qashash: 38)
Fir‘aun bukan hanya mengaku tuhan. Ia menolak ajakan Nabi Musa, padahal
sudah ditunjukkan banyak bukti kebesaran Allah. Hatinya tertutup oleh
kesombongan dan ketakutan kehilangan kekuasaan. Ia bahkan memerintahkan Haman
membuat menara tinggi, seakan-akan bisa “melihat” Tuhan Musa. Semua itu
hanyalah cara untuk meremehkan kebenaran dan menutupi kelemahannya sendiri.
Allah menggambarkan, Fir‘aun dan bala
tentaranya berjalan di bumi dengan angkuh, seolah hidup tanpa
pertanggungjawaban. Inilah puncak keserakahan Fir’aun, ia merasa dunia ini
abadi.
Artinya: “Dan dia sangat angkuh, bersama bala tentaranya di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.”وَاسۡتَكۡبَرَ هُوَ وَجُنُوۡدُهٗ فِى الۡاَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَـقِّ وَظَنُّوۡۤا اَنَّهُمۡ اِلَـيۡنَا لَا يُرۡجَعُوۡنَ
Tafsir Al-Mishbah menjelaskan, kata “bumi”
di sini maksudnya adalah Mesir, tapi Al-Qur’an memakai bentuk ma‘rifah
(definitif), seakan-akan Fir‘aun ingin berkuasa di seluruh dunia jika ia mampu.
Seperti itulah sifat penguasa zalim, diberi sedikit ruang, ingin menguasai
segalanya.
Inilah wajah keserakahan dalam
kekuasaan: jabatan dianggap milik pribadi, kekuatan dipakai untuk
menindas, bukan melindungi, dan lupa bahwa hidup ini ada akhirat.
Fir‘aun merasa tidak akan kembali kepada
Allah. Karena keangkuhan itu, Allah menghukum mereka dengan sangat mudah. Kata “akhadznāhu” (Kami ambil dia) dalam
Al-Qur’an menggambarkan betapa gampangnya Allah menjatuhkan hukuman, meskipun
Fir‘aun punya pasukan yang besar.
Artinya: “Maka Kami siksa dia (Fir'aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 40)فَاَخَذۡنٰهُ وَجُنُوۡدَهٗ فَنَبَذۡنٰهُمۡ فِى الۡيَمِّۚ فَانْظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيۡنَ
Kata “nabadznāhum” (Kami lemparkan)
menunjukkan bahwa Fir‘aun dan tentaranya dianggap tidak ada nilainya, seperti
benda kecil yang dibuang begitu saja. Bandingkan dengan Nabi Musa yang juga
pernah “dilemparkan” ke sungai atas perintah Allah, tapi justru diselamatkan.
Sementara Fir‘aun, karena kesombongannya, “dilemparkan” ke laut dan binasa.
Kesombongan, keserakahan, dan lupa akhirat hanya akan membawa kehancuran.
Fir‘aun yang begitu kuat akhirnya tak berdaya sedikit pun di hadapan Allah.
Kisah Fir‘aun adalah peringatan abadi. Siapa pun yang sombong, menindas
orang lain, dan merasa dirinya bebas dari pertanggungjawaban, akan berakhir
sama: rugi di dunia, celaka di akhirat.
Kalau kita lihat sekarang, sifat Fir‘aun masih
sering muncul, hanya berbeda bentuk. Ada pemimpin yang anti kritik, selalu
ingin dipuji, bahkan rela menghalalkan segala cara agar jabatannya langgeng.
Ada orang yang punya sedikit kuasa tapi memanfaatkannya untuk menekan orang
lain. Bahkan kita sendiri kadang bisa terjebak merasa paling benar atau lebih
tinggi dari orang lain.
Allah sudah menunjukkan akhir dari Fir‘aun
yakni ditenggelamkan bersama tentaranya, dan jasadnya dibiarkan jadi pelajaran
sepanjang zaman. Sehebat apa pun manusia, kalau lupa akhirat, kesombongannya
akan berujung kehancuran.
Dari sini kita belajar bahwa jabatan, kekuasaan, bahkan kemampuan kecil yang kita miliki, semuanya hanyalah titipan. Amanah itu bukan untuk disombongkan, tapi untuk dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Jangan sampai kita punya sifat seperti Fir‘aun. Karena yang benar-benar kekal bukan tahta, harta, atau jabatan. Tetapi amal baiklah yang kita bawa pulang menghadap Allah.

0 Komentar